Makna dan Hikmah Maulid Nabi

Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal. Tanggal tersebut pun ditetapkan sebagai hari Maulid Nabi. Rasulullah sendiri lahir di kota Mekkah saat tahun Gajah dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Namun, sang ayah meninggal dunia sebelum Nabi Muhammad lahir dan ibunya menghembuskan napas terakhir saat Nabi berusia 6 tahun.
Berdasarkan buku ’37 Masalah Populer: Untuk Ukhuwah Islamiyah’ karya H Abdul Somad, yang bisa dipetik dalam perayaan Maulid Nabi adalah mengingatkan manusia tentang risalah dan sirah dari Rasulullah SAW. Dengan begitu, umat Islam akan memahami bahwa satu-satunya tauladan adalah Rasulullah SAW.
Setiap jejak laku manusia tak akan berguna jika tidak dapat mengambil hikmah dari apa yang telah dilakukan. Dari peringatan maulid nabi ini, kita dapat mengambil hikmah dan makna maulid nabi diantaranya adalah:

1. Meneladani akhlak Rasulullah SAW

Makna substantif yang pertama yang perlu dikaji dari peringatan Maulid Nabi Muhammad saw adalah meneladani akhlak Nabi Muhammad saw. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad saw: “saya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”. Nabi adalah teladan sempurna dalam beribadah, berakhlak, dan juga dalam relasinya dengan semua umat manusia, hablum minallah, habblum minan-nas, dan habblum minal alam telah dicontohkan oleh beliau. Bahkan seringkali Rasulullah disebut sebagai Al-Qur’an berjalan, dimana esensi ajaran Al-Qur’an tercermin pada diri Rasulullah.
Maka sudah seharusnya setiap jejak langkah hidup kita di dunia ini meniru dan mengikuti akhlaq yang telah diajarkan oleh Rasulullah mulai dari hal kecil dalam kehidupan ini baik yang menyangkut masalah ubudiyyah, muamalah, dll. Untuk itu, marilah kita kembali meneladani akhlaq Rasulullah karena sungguh dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik. Sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Ahzab: 21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS.Al-Ahzab:21)”

2. Meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan kecintaan kita kepada Rasulullah, diantaranya dengan meneladani akhlaqnya, mengikuti ajarannya, menjalankan sunnah-sunnahnya dan bersholawat kepadanya. Tentunya dibalik semua ibadah-ibadah di atas ada keberkahan dan anugerah yang akan diterima jika memang menjalankannya tulus karena mengharap pahala dari Allah. Hadits berikut memberi penjelasan mengenai keutamaan membaca shalawat, sebagaimana riwayat sahabat Ibnu Mas’ud Radliyallahu Anhu,
Orang yang paling utama berada denganku kelak di hari kiamat adalah mereka yang banyak membaca shalawat kepadaku.
Sungguh keberkahan tiada terhingga bagi siapa saja umat muslim diantara mereka yang senantiasa memperbanyak membaca shalawat kecuali balasan pahala dari Allah dengan menempatkannya bersama Nabi Muhammad. Maka di bulan rabi’ul awal ini kita senantiasa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan banyak mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dengan maksud dan tujuan mendapat keberkahan dan rahmat serta pertolongan dari Allah SWT.

3. Sebagai Syi’ar Islam dan Sarana Ibadah

Dalam Maulid Nabi tentu banyak sekali rangkaian ibadah di dalamnya, ini tentu menjadi salah satu syi’ar Islam dan ibadah guna meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Peringatan maulid Nabi yang setiap tahunnya diadakan tidak sekedar seremonial belaka, dalam rangka mensyukuri rahmat Allah SWT dan menunjukkan kecintaan kita terhadap Rasulullah. Di dalamnya sungguh padat dengan ibadah, seperti membaca al-Qur’an, shalawat, is dzikir bersama, doa bersama dan ceramah agama. Tentu ini menjadi ladang pahala dan syiar Islam.

4. Melanjutkan Misi Perjuangan Rasulullah
Rasulullah sesaat sebelum wafat telah berwasiat kepada sahabat dan umat yang sangat dicintainya, Rasul bersabda:
“Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik).
Rasul juga mewariskan misi perjuangan kepada generasi penerus beliau, yakni para ulama’ dari masa ke masa. Mereka, para ulama’ adalah pewaris para Nabi. Rasulullah SAW. bersabda :
”Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia mengambilnya dengan bagian sempurna.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Hibban).
Untuk itu, mari kita memperjuangankan agama Islam ini dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, menyampaikan kebenaran walaupun hanya 1 ayat dengan berpedoman pada Al-Qur’an, Hadist, serta Ijma’ dan Qiyas yang merupakan ijtihad para ulama.
Apabila kita semua umat muslim di Indonesia dapat menemukan makna dan esensi Maulid Nabi ini, serta menjalankan agama Islam sesuai dengan tuntunannya, maka sudah barang tentu Indonesia akan menjadi negara yang “baldatun toyyibatun wa Rabbun ghofur”. Indonesia yang sejahtera, adil, aman, makmur, sentosa, serta dilimpahkan oleh Allah berupa barokah kepada negeri tersebut.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awwal 1442 H.

%d blogger menyukai ini: